Minggu, 06 Maret 2011

Pakan Banteng

PENGELOLAAN PAKAN BANTENG (Bos javanicus d’ Alton 1832) DI HABITAT INSITU

Oleh :
KELOMPOK 6
SITI MUNAWAROH               E34080037
KAMALUDIN A.                     E34080053
DAVIDIA I.P.Y                                   E34080077
TIARA   E.A                              E340800
MEYLA DONA P.                   E34080114
AMRUL ILMANA                  E34080115




DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Banteng merupakan salah satu jenis satwa liar herbivor yag bersifat pemakan rumput (grazer) daripada pemakan semak (browser). Satwa ini tergolong kedalam kategori satwa langka dan dilindungi. Di Indonesia banteng haya dapat ditemukan di Pulau Jawa, Kalimantan dan sedikit di Bali Barat. Penurunan populasi banteng ini disebabkan oleh rusaknya habitat alaminya dan terjadi pemburuan liar. Oleh karena itu perlu adanya upaya pelestarian dengan cara manajemen pengelolaan satwa tersebut tanpa mengabaikan aspek ekonomis, finansial serta manfaat fisik wilayahnya.
Manjemen pengelolaan satwa liar dalam kawasan konservasi tidak terlepas dari pengelolaan habitat alami satwa tersebut. Dalam pengelolaan habitat, makanan menjadi faktor pembatas bagi perkembangbiakan satwa tersebut. Hal ini disebabkan karena jumlah makanan yang terdapat di habitat insitu sangat terbatas dan ketersediaannya dipengaruhi oleh banyak faktor.
Banteng merupakan satwa herbivor, sehingga membutuhkan adanya padang penggembalaan yang dijadikan sebgai sumber pakan dan pusat aktivitas. Keberadaaan padang penggembalaan ini sangat menentukan kelestarian populasi banteng.  Kualitas padang penggembalaan harus dapat dipertahankan agar populasi satwa yang ada dapat hidup secara normal dan terus menerus. Untuk itu perlu diketahui daya dukung suatu padang penggembalaan terutama dari segi kuantitas maupun kualitas hijauan makanan satwa.

1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah:
-          Mengetahui jenis-jenis pakan yang ada pada habitat asli banteng
-          Mengetahui palatabilitas pakan banteng
BAB II
METODOLOGI
2.1 Waktu dan Lokasi
            Praktikum ini dilakukan pada tanggal 28 Februari 2011 pukul 14.00-17.00 di Dramaga 1 IPB.
2.2 Alat dan Bahan
            Alat dan bahan yang digunakan yaitu berbagai jenis pustaka diantaranya yaitu skripsi, tesis,buku dan jurnal ilmiah.
2.3 Metode pengumpulan data
            Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur yang berhubungan dengan banteng. Sumber literature berasal dari skripsi, tesis dan jurnal ilmiah.
2.4 Analisis data
Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh data tentang keanekaragaman jenis pakan banteng, palatabilitas pada banteng dan pengelolaan pakan yang dilakukan di berbagai kawasan konservasi (Taman Nasional Ujung Kulon, Cagar Alam Pangandaran, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo).





BAB III
PEMBAHASAN
2.1 Bio-Ekologi Banteng
2.1.1 Taksonomi
Menurut Hedges (2000) dalam Nugraha (2007), taksonomi banteng diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Pylum              : Chordata
Class                : Mammalia
Ordo                : Artidactyla
Family             : Bovidae
Genus              : Bos
Spesies            : Bos javanicus d’ Alton 1823
2.1.2 Morfologi
            Banteng memiliki tubuh yang tegap, besar dan kuat dengan bahu bagian depannya lebih tinggi daripada bagian belakang tubuhnya. Di kepalanya terdapat sepasang tanduk, pada banteng jantan berwarna hitam mengkilap, runcing dan melengkung simetris kedalam, sedangkan pada banteng betina bentuk tanduknya lebih kecil. Pada bagian dada terdapat gelambir (dewlap) yang dimulai dari pangkal kaki depan sampai bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah kerongkongan (Alikodra 1983).
            Jenis kelamin pada banteng dapat dibedakan dari warna kulitnya. Banteng betina mamiliki warna coklat kemerahan, semakin tua umurnya semakin gelap menjadi coklat tua. Sedangkan banteng jantan memiliki warna kulit hitam, semakin tua maka warna kulitnya semakin tua. Warna banteng sangat bervariasi sesuai dengan lokasi habitatnya.
2.1.3 Karekteristik Habitat dan Pakan
            Habitat merupakan satu kesatuan kawasan yang dapat menjamin segala keperluan hidupnya baik makanan, air, udara bersih, garam mineral, tempat berlindung, berkembangbiak, maupun tempat unutk mengasuh anak-anaknya (Alikodra 2002).  Satwa liar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Menurut Alikodra (1983) dalam Nugraha (2007) komponen lingkungan hidup banteng yang ideal terdiri dari hutan alam primer, semak-semak, padang penggembalaan, sumber air, hutan pantai, hutan payau dan laut.
            Pakan merupakan salah satu komponen penting yang sangat dibutuhkan satwa liar untuk dapat tumbuh dan berkembangbiak. Tumbuhan pakan yang berpotensi menjadi pakan satwa liar adalah tumbuhan yang dapat dijangkau dan dimanfaatkan oleh satwa liat tersebut. Menurut Alikodra (1990), potensi makanan (penyebaran dan nilai gizinya) di alam sangat berkaitan erat dengan kondisi musim. Banteng memiliki musim melahirkan saat menjelang musim penghujan. Hal ini disebabkan karena saat musim penghujan ketersediaan pakan melimpah sehingga mempengaruhi kondisi pertumbuhan dan kesehatan banteng.
Penggunaan makanan oleh satwa liar ditentukan oleh perubahan ketersediaan dan kualitas jenis-jenis makanan di dalam lingkungan. Jenis pakan yang dikonsumsi oleh banteng di setiap lokasi berbeda-beda. Potensi pakan di suatu lokasi sangat dipengaruhi oleh:
1.      Keanekaragaman jenis pakan
Keanekaragaman jenis pakan menjadi salah satu faktor penting sebagai pendukung adanya ketersediaan pakan. Pada umumnya banteng merupakan satwaliar yang cenderung lebih menyukai memakan rerumputan dibandingkan dengan memakan pucuk daun. Akan tetapi hal ini tidak dapat dijadikan faktor penentu, karena hal tersebut tergantung pada kondisi habitat yang ada pada suatu wilayah. Hal ini dapat dijelaskan karena banteng merupakan satwa yang dapat menyesuaikan diri dengan habitatnya dengan baik.
a.       Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)
Padang penggembalaan sangat penting peranannya bagi perkembangbiakan banteng .Di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), terdapat padang penggembalaan Cidaon yang memiliki luas sekitar 6 ha. Padang penggembalaan tersebut terdiri dari dari dua vegetasi yaitu vegetasi rumput dan vegetasi semak atau herba (bukan rumput). Berdasarkan hasil analisis vegetasi di padang penggembalaan Cidaon terdapat 9 jenis rumput yaitu rumput teki, rumput jarum, rumput kawat, tapak liman, ki jampang, jampang pait, rumput kiseuseut, ki bareula, kukucayan dan 6 jenis bukan rumput (semak dan herba) yaitu antanan, amis mata, domdoman, jejerukan, meniran, jarong. Jenis vegetasi yang mendominasi diantaranya yaitu antanan (Centella asiatica), domdoman (Chrysopogon aciculatus) dan rumput teki (Cyperus brevifolia). Jenis-jenis rumuput yang trdapat di padang penggembalaan Cidaon umumnya merupakan sumber pakan banteng. Hal ini disebabakan karena banteng merupakan satwa liar yang tidak selektif dalam memilih makanan (Destriana 2008).
Hutan dataran rendah yang terdapat di TNUK memiliki keanekagaraman jenis yang tinggi. Pada tingkat semai dan tumbuhan bawah ditemukan 22 jenis dengan jenis-jenis yang mendominasi diantaranya yaitu salam (Eugenis polyantha) dan tepus (Ammomum coccineum). Pada tingkat pancang ditemukan 16 jenis dengan jenis-jenis mendominasi diantaranya yaitu peuris (Aporosa aurita) dan ki genteul (Diospyros javanica). Pada tingkat tiang ditemukan sebanyak 9 jenis dengan jenis-jenis yang mendominasi diantaranya yaitu salam dan lampeni. Sedangkan pada tingkat pohon ditemukan 14 jenis dengan jenis-jenis yang mendominasi diantaranya yaitu lampeni dan salam. Berbagai jenis tumbuhan bawah yang terdapat di hutan dataran rendah dijadikan sebagai sumber pakan bagi banteng di hutan (Destriana 2008).
Tipe hutan pantai di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)  juga dimanfaatkan banteng untuk memperoleh makanan, beristirahat, dan juga tempat berlindung pada saat sebelum maupun setelah melakukan kegiatan mengasin di pantai. Berdasarkan hasil analisis vegetasi hutan pantai Cidaon memiliki keanekaragaman tinggi. Di lokasi tersebut ditemukan 12 jenis tumbuhan. Untuk tingkat semai dan tumbuhan bawah ditemukan 10 jenis dengan jenis yang mendominasi yaitu ketapang (Terminalia catappa) dan Lampeni. Pada tingkat pancang ditemukan 7 jenis dengan jenis yang mendominai yaitu waru laut (Thespesia populnea) dan lampeni. Pada tingkat tiang ditemukan 8 jenis dengan jenis yang mendominasi yaitu malapari dan lempeni. Dan pada tingkat pohon ditemukan 7 jenis denag jenis yang mendominasi yaitu lampeni dan nyamplung (Calophyllum inophyllum) (Husna 2008).

b.      Cagar Alam Pangandaran dan Taman Wisata Alam Pangandaran (CAP-TWAP)
Kawasan Cagar Alam Pangandaran memiliki dua padang penggembalaan yang biasa digunakan banteng untuk mencari makan yaitu padang penggembalaan Cikamal dan Badeto dengan luasan masing-masing 20 ha dan 10 ha.Berdasarkan analisis vegetasi di padang penggembalaan terdapat 25 jenis rumput dan bukan rumput dari 7 famili. Jenis tumbuhan yang dominan adalah jenis Jampang kawat (Anthraxon sp.) dan dom-doman (Chrysopogon aciculatus). Jenis ini tahan terhadap terik matahari sehingga sangat mudah ditemukan di padang penggembalaan. Selain itu terdapat vegetasi hutan pantai dengan 43 jenis tumbuhan yang didominasi oleh tumbuhan bayur (Pterospermum javanicum), langkap (Arenga obtusifolia), Pandan (Baringtonia asiatica),salak (Salacca edulis), Poh-pohan (Pilea trinervia),  Ki Hapit (Mitrephora obtusa), dom- doman (Chrysopogon aciculatus) dan lain sebagainya. (Nugraha 2007)
Vegetasi hutan dataran rendah memiliki 37 jenis tumbuhan dari 26 famili terdapat jenis marong (Crataxylon formosum), ipis kulit (Desmodium heterophylum), ki andong (Rhadamnia cinerea). Sebagian besar dari vegetasi yang ditemukan merupakan pakan banteng, akan tetapi banteng lebih menyukai jenis yang berada pada hutan dataran rendah yaitu jenis rumput-rumputan.(Nugraha 2007)

c.       Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur
Tipe vegetasi yang menjadi habitat banteng di TNAP adalah hutan dataran rendah, hutan pantai, hutan tanaman dan padang penggembalaan. Anlisis vegetasi pada hutan dataran rendah ditemukan 40 jenis tumbuhan. Jenis yang mendominasi pada hutan dataran rendah adalah walangan, suren, bayur, kawatan dan bambu. Berbagai jenis tumbuhan bawah di hutan dataran rendah dimanfaatkan banteng sebagai sumber pakan, selain tumbuhan bawah anakan bambu yang masih muda juga dimanfaatkan sebagai pakan banteng.Jenis yang disukai oleh banteng adalah jenis lamuran dan kawatan.(Delfiandi 2006)
 Hutan tanaman di TNAP merupakan jenis jati, mahoni, dan johar dengan luasan 3.350 ha. Tegakan hutan tanaman relatif terbuka, tanahnya datar dan kering dengan topografi relatif datar. Pakan yang dimanfaatkan oleh banteng pada hutan tanaman adalah tumbuhan bawah yang tumbuh disela-sela tegakan. Jenis pakan yang mendominasi ketersediannya adalah wedhusan dan paku. (Delfiandi 2006)
 Pada  padang penggembalaan ditemukan rumput teki dan pahitan yang paling mendominasi. Sedangkan tanaman yang paling disukai adalah jenis lamuran.Selain itu terdapat vegetasi hutan pantai yang biasanya dimanfaatkan oleh banteng sebagai tempat mengasin. Vegetasi yang mendominasi hutan pantai adalah bogem,dadap laut,jambu-jambuan dan pulai. Padang penggembalaan merupakan habitat yang ideal bagi banteng, baik pada musim kemarau atau pada musim penghujan.(Delfiandi 2006)

2.      Palatabilitas Pakan
Palatabilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hewan itu sendiri, fase pertumbuhan, kondisi hijauan, kesempatan memilih makanan yang lain, tata cara pemupukan hijauan. Oleh karena itu hal yang dapat kita perhatikan adalah kondisi hijauan serta kandungan yang dimiliki hijauan dan kebutuhan pakan satwaliar.
Menurut penelitian Muntasib (2000) belakangan ini banteng jawa diduga sudah beradaptasi untuk memakan dengan dua sifat tersebut (browser dan grazer) yang menyebabkan jumlah populasinya meningkat di Taman Nasional Ujung Kulon. Perbedaan variasi keanekaragarnan (jumlah) jenis tumbuhan yang dimakan banteng dapat mengindikasikan adanya perubahan pola menu pakan banteng dari lebih sebagai perumput menjadi sebagai peragut. Sehingga hal ini menyebabkan Muntasib dan Masy’ud (2000) berpendapat bahwa banteng sebagai herbivora yang tidak selektif di dalam mernilih makanannya dapat selalu beradaptasi dengan setiap perubahan lingkungannya, khususnya dalam memanfaatkan jenis hijauan yang ada sebagai makanannya.
Dari proporsi jenis-jenis rumput dan non rumput yang dimakan banteng ternyata jenis non rumput yang dimakan juga relatif banyak (48.2%) atau paling tidak termasuk jenis hijauan yang relatif tinggi serat kasamya (Muntasib dan Masy’ud, 2000). Alikodra (1983) menyatakan bahwa banteng di padang penggembalaan Cijungkulon tidak menyukai semak temblekan (Lantana camara), harendong (Melastoma malabathricum), kirinyu (Eupatorium odoratum), dan lampeni (Ardisia hmilis).
Ditinjau dari segi frekuensi makan, maka sebagian besar makanan banteng (90%) terdiri dari rumput dengan kondisi persentase kandungan gizi lemak 1,44%, serat kasar 32,17%, protein 9,19%, BETN 36,50%, dan abu 12,48%. Konsumsi makanan setiap ekor banteng berkisar antara 13,37 – 35,97 kg berat basah per hari, atau 4,10 – 8,95 kg barat kering per hari. Kebutuhan protein banteng berdasarkan perhitungan bahan yang dimakan adalah 681 gr/ekor/hari, sedangkan kebutuhan minimum protein berdasarkan kandungan nitrogen dalam urine dan feces adalah 317,25 gr/ekor/hari (Alikodra, 1983).

3.      Pengelolaan Pakan
Pengelolaan pakan pada habitat insitu tidak dikelola secara periodik karena banyaknya  faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan pakan.Pola penggunaan ruang dan perilaku sosial betina sangat dipengaruhi oleh keterbatasan dan distribusi makanan dan cover. Pergerakan atau perpindahan banteng cenderung dipengeruhi oleh ketersediaan makanan.
Faktor-faktor primer yang mendorong satwa untuk bergerak agar kebutuhan fisiologisnya terpenuhi seperti rasa lapar, haus dan motivasi seksual menjadikan faktor-faktor tersebut penentu utama dari penggunaan suatu tempat atau habitat.
Cover atau pelindung merupakan komponen habitat berikutnya yang mempengaruhi pemilihan habitat oleh banteng yang nantinya berpengaruh terhadapa ketersediaan pakan. Banteng merupakan salah satu jenis satwaliar yang tidak terlalu menyukai cuaca dengan panas matahari yang terik dan umumnya mencari perlindungan dibawah tegakan hutan untuk beristirahat. Oleh karena itu pengelolaan terhadap habitat agar tidak terjadi pembalakan secara liar menjadikan keberadaan habitat tetap dalam kondisi baik dan mampu memberikan rasa aman terhadap satwaliar yang ada di kawasan tersebut.
Selain ketersediaan pakan yang cukup, banteng juga memerlukan minum dan daerah mengasin. Seperti pada TNAP sumber air minum untuk benteng berasal dari Goa Basori. Dapat juga diberikan sumber air buatan untuk menyediakan air untuk banteng saat musim kemarau. Sedangkan vegetasi hutan pantai dimanfaatkan banteng untuk mengasin, mengasin berfungsi pembantu dalam proses pencernaan. Oleh karena itu harus ada pembatasan pengunjung dalam daerah pantai yang biasa digunakan untuk wisata, agar banteng dapat leluasa pergi kepantai untuk mengasin.
Pengelolaan pakan yang dilakukan oleh pengelola biasanya berupa padang penggembalaan yang merupakan feeding ground buatan yang biasanya sengaja dibuka agar pengelola lebih mudah melakukan monitoring dan pembinaan satwaliar. Dengan adanya padang penggembalaan dapat membantu banteng lebih mudah dalam memperoleh pakan serta cover untuk kelangsungan hidup banteng.


KESIMPULAN
Banteng merupakan satwaliar yang diurnal atau aktif sepanjang siang. Banteng menghabiskan hidupnya untuk merumput dan memamah biak secara bergantian dan mulai merumput pada cuaca cerah. Oleh karena itu ketersediaan pakan yang mencukupi menjadi faktor yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup banteng karena kebutuhan pakan yang sangat banyak. Tumbuhan yang menjadi pakan banteng antara lain kawatan, brambangan, teki, bambu,wedhusan,kawatan, sidagori, paku, lamuran dan lain sebagainya. Akan tetapi, jenis pakan yang dominan menjadi sumber pakan banteng adalah pada vegetasi hutan dataran rendah. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor penentu yang disebut palatabilitas, palatabilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hewan itu sendiri, fase pertumbuhan, kondisi hijauan, kesempatan memilih makanan yang lain, tata cara pemupukan hijauan. Oleh karena itu hal yang dapat kita perhatikan adalah kondisi hijauan serta kandungan yang dimiliki hijauan dan kebutuhan pakan banteng.


DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, HS dan Djokowoerjo Sastradipradja. 1983. Studi Tentang Beberapa Parameter Faal Pelestarian Satwa Banteng (Bos javanicus). Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Alikodra, HS. 1983. Ekologi Banteng (Bos javanicus d’Alton) di Taman Nasional Ujung Kulon [Disertasi]. Bogor: Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Delfiandi. 2006. Analisis Pola Penggunaan Ruang dan Wilayah Jelajah (Bos javanicus d’Alton 1832) di Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur. Bogor : Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Destriana, HA.2008. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk pemetaan Kesesuaian Habitat Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) Di Taman Nasional Ujung Kulon. Bogor : Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Hoogerwerf, A. 1970. Udjung Kulon: the Land of the Last Javan Rhinoceros. Leiden: EJ. Brill.
Muntasib, EKS dan Burhanuddin Masy’ud. 2000. Perubahan Pola Makan Banteng (Bosjavanicus) dan Pengaruhnya terhadap Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Dalam: Hayati Vol.7 No.3, September 2000, hIm. 71-74
Muntasib, EKS. 2000. Studi Persaingan Antara Banteng (Bos javanicus) dengan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Laporan Penelitian. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Nugraha, H. 2007. Analisis Pola Penggunaan Ruang Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) Di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Pangandaran, Jawa Barat. Bogor : Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.





           
           

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar